rasa syukur

Sebagai pengusaha, menaklukkan tantangan dan kegagalan sangat penting bagi kesuksesan bisnis Anda. Anda bisa belajar menumbuhkan ketahanan itu dengan melatih otak Anda agar tetap bersikap positif saat masa sulit.
Otak kita lebih cenderung mencari informasi negatif dan menyimpannya lebih cepat ke ingatan.

Tentu saja, bias itu tidak selalu buruk. Mengakui masalah dan menghadapi kegagalan dapat membawa kita ke solusi yang lebih baik. Tapi terlalu sering, kita pergi ke laut, dan mengalahkan diri sendiri atas kegagalan kita atau membiarkan diri kita dalam hal negatif.
Dengan secara sadar meningkatkan fokus kita pada hal yang positif, kita bahkan mulai menyeimbangkannya. Kami menemukan media bahagia dimana kita bisa mengatasi kegagalan dan tantangan tanpa membiarkan mereka menurunkan kita, membuat kita lebih termotivasi, produktif, dan cenderung sukses.

Cobalah tiga tips berikut untuk membantu melatih otak agar tetap positif:

1. Ungkapkan rasa syukur.
Peristiwa negatif tampak besar kecuali Anda secara sadar menyeimbangkannya. “Bila Anda menghadapi tantangan, penting untuk mencatat apa yang terjadi dengan baik,” kata Della Porta. Berpikir tentang kebaikan dalam hidup Anda dapat membantu menyeimbangkan bias itu, memberi otak Anda waktu ekstra yang dibutuhkan untuk mendaftar dan mengingat peristiwa positif.

Untuk membantu otak Anda menyimpan kejadian positif, renungkan apa yang Anda syukuri dan mengapa setidaknya seminggu sekali. Tulislah berkat-berkat Anda, seperti kesempatan untuk mengejar karir yang Anda cintai atau keluarga yang mendukung Anda. Jika Anda lebih suka kebiasaan sehari-hari, maka simpanlah log malam hal baik yang terjadi hari itu.

2. Ulangi afirmasi positif.
Seperti yang diketahui politisi atau pengiklan, semakin sering Anda mendengar sebuah pesan, semakin besar kemungkinan Anda untuk mempercayainya. Hal yang sama berlaku untuk pesan tentang siapa Anda dan apa yang dapat Anda lakukan. Dengan mengulangi afirmasi positif dengan keyakinan beberapa kali setiap pagi, Anda melatih otak untuk mempercayainya.

3. Tantang pikiran negatif.
Setiap kali timbul pemikiran negatif, kita memilih cara meresponsnya. Jika dibiarkan ke perangkat kita sendiri, kita cenderung untuk tinggal. Otak kita masuk ke dalam peristiwa negatif sehingga tampak jauh lebih besar dan lebih penting daripada kenyataan.